Dinsos Kotim Waspadai Peningkatan Gepeng dan Modus Orang Terlantar Selama Ramadan
SB, SAMPIT – Memasuki bulan suci Ramadan, Dinas Sosial Kabupaten Kotawaringin Timur (Dinsos Kotim) meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bertambahnya gelandangan dan pengemis (gepeng) di sejumlah titik Kota Sampit.
Selain itu, pemerintah daerah juga memberi perhatian pada maraknya dugaan modus orang terlantar yang kerap muncul saat momen keagamaan.
Kepala Dinsos Kotim, Hawianan, mengatakan bahwa setiap Ramadan biasanya terjadi peningkatan aktivitas gepeng, khususnya di kawasan pusat kota dan lokasi yang ramai dikunjungi masyarakat.
“Biasanya saat momen Ramadan bermunculan gepeng, sehingga ini juga perlu penertiban. Termasuk di tahun ini, potensi tersebut perlu diwaspadai,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, Kabupaten Kotawaringin Timur merupakan daerah terbuka dengan akses transportasi yang lengkap, baik melalui jalur darat, laut, maupun udara. Kondisi ini membuat arus keluar-masuk orang relatif tinggi, terlebih saat Ramadan.
“Karena Kotim bisa diakses melalui darat, laut, dan udara, maka mobilitas penduduk cukup tinggi. Ini yang perlu kita pantau untuk menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat selama Ramadan,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinsos akan memperkuat koordinasi dengan sejumlah instansi terkait, seperti Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan kepolisian, guna melakukan pemantauan serta penertiban apabila diperlukan. Sinergi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) dinilai penting agar situasi tetap kondusif.
Tak hanya persoalan gepeng, Dinsos juga memberi perhatian terhadap laporan orang terlantar. Namun, Hawianan mengakui bahwa tidak semua laporan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
“Kadang memang ada yang benar-benar terlantar dan perlu dibantu. Tapi ada juga yang hanya berpura-pura untuk mendapatkan bantuan atau simpati. Kalau tidak ditangani dengan baik, ini bisa berdampak pada nama baik pemerintah daerah,” katanya.
Ia menegaskan, setiap laporan akan melalui proses asesmen terlebih dahulu untuk memastikan kebenarannya. Jika terbukti benar-benar terlantar, Dinsos akan memfasilitasi pemulangan ke daerah asal, termasuk berkoordinasi dengan operator jasa pelayaran di Pelabuhan Sampit.
“Kami tetap lakukan asesmen. Jika memang benar terlantar, akan kami bantu pemulangannya. Namun jika hanya modus, tentu penanganannya berbeda,” pungkasnya. (f1/SB)