Kasus Campak di Kotim Terkendali, Dinkes Temukan 18 Kasus Sejak Awal Tahun
SB, SAMPIT - Kasus Campak dilaporkan meningkat di sejumlah daerah di Indonesia. Namun, kondisi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih dalam kategori terkendali meskipun telah ditemukan belasan kasus sejak awal 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, menyampaikan bahwa secara umum tidak terjadi lonjakan signifikan di wilayah tersebut.
“Secara umum, kasus campak di Kotim masih stabil, tidak ada peningkatan yang signifikan meskipun secara nasional ada tren kenaikan,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).
Data Dinkes mencatat, hingga minggu ke-10 tahun 2026 terdapat 18 kasus suspek campak yang tersebar di tiga kecamatan. Rinciannya, empat kasus di Mentawa Baru Ketapang, enam kasus di Baamang, dan delapan kasus di Cempaga.
“Terhitung dari minggu pertama hingga minggu ke-10 tahun 2026, total ada 18 kasus suspek campak,” tambahnya.
Meski situasi masih terkendali, Dinkes Kotim tetap memperkuat langkah kewaspadaan guna mencegah potensi penyebaran lebih luas. Salah satunya dengan menindaklanjuti Surat Edaran dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan kepada seluruh fasilitas layanan kesehatan.
“Surat edaran ini menjadi acuan dalam upaya pencegahan penularan serta kesiapsiagaan menghadapi potensi kejadian luar biasa (KLB),” jelasnya.
Dinkes juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan upaya pencegahan, terutama dengan memastikan anak mendapatkan imunisasi campak-rubella (MR) sesuai jadwal, yakni sebelum usia satu tahun, dilanjutkan pada usia 1,5 tahun dan 7 tahun.
Selain itu, masyarakat diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan bergizi, serta menghindari kontak langsung dengan penderita.
“Penderita sebaiknya dihindarkan dari ibu hamil, dan diberikan vitamin A untuk membantu proses pemulihan,” pungkasnya. (f1/sb)