Minim Destinasi Wisata, Kotim Buka Peluang Investasi untuk Dongkrak PAD
SB, SAMPIT – Ketersediaan destinasi wisata di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai masih minim. Kondisi ini mendorong Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kotawaringin Timur membuka peluang investasi, khususnya dalam pengembangan wisata buatan sebagai upaya meningkatkan perekonomian daerah.
Kepala Disbudpar Kotim, Ramadansyah, mengungkapkan bahwa kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masih tergolong kecil, meski memiliki potensi besar jika dikelola secara maksimal.
“Saat ini tempat wisata bagi masyarakat di Kotim masih kurang, makanya PDRB dari sektor pariwisata masih kecil,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Ia menilai, salah satu kendala utama adalah terbatasnya jumlah destinasi wisata, terutama wisata buatan yang dapat menjadi daya tarik baru bagi wisatawan lokal maupun luar daerah.
Untuk itu, pihaknya berharap adanya peran investor dalam mengembangkan potensi yang ada, termasuk memanfaatkan lokasi-lokasi yang dinilai strategis namun belum tergarap optimal.
“Contohnya seperti danau bekas galian C di Jalan Jenderal Sudirman KM 6. Kalau dikelola dengan baik, saya kira itu bisa jadi bagus, misalnya ditambah wahana seperti jetski. Harapan kita ada investor yang melirik lokasi itu untuk dijadikan objek wisata,” jelasnya.
Menurut Ramadansyah, kehadiran wisata buatan nantinya dapat melengkapi potensi wisata alam yang sudah ada, sehingga mampu meningkatkan daya tarik daerah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi Pendapatan Asli Daerah (PAD), sektor pariwisata sebenarnya memiliki sejumlah sumber, seperti pajak dan retribusi. Namun, kontribusi dari aset wisata milik pemerintah daerah hingga kini masih sangat kecil.
“Retribusi dari aset wisata daerah itu masih sekitar Rp3 juta saja. Kami sedang mengkaji agar pengelolaannya bisa melibatkan pihak ketiga, sehingga potensi PAD bisa lebih optimal,” tambahnya.
Sementara itu, di salah satu destinasi unggulan Kotim yakni Pantai Ujung Pandaran, pemasukan daerah sejauh ini masih bergantung pada pajak dari pelaku usaha, seperti pengelola pondok wisata, restoran, hingga parkir.
Ramadansyah berharap ke depan semakin banyak investor dan pelaku usaha yang tertarik mengembangkan sektor pariwisata di Kotim. Selain memberikan lebih banyak pilihan destinasi bagi masyarakat, langkah ini juga diyakini mampu meningkatkan PAD secara signifikan.
“Kami optimistis jika sektor ini dikembangkan serius, pariwisata bisa menjadi salah satu andalan daerah untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (f1/sb)