seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Grebeg Suro Lamandau 2026, Kirab Budaya Satukan Keberagaman dan Lestarikan Warisan Leluhur

by Redaksi - Tanggal 09-07-2026,   jam 10:15:49
Kirab Budaya Grebeg Suro Lamandau 2026 pertama digelar sebagai tradisi tahunan, pada Rabu (8/7/2026). FOTO: BAYU/SB Kirab Budaya Grebeg Suro Lamandau 2026 pertama digelar sebagai tradisi tahunan, pada Rabu (8/7/2026). FOTO: BAYU/SB

SB, NANGA BULIK– Kirab Budaya Grebeg Suro Lamandau 2026 pertama digelar sebagai tradisi tahunan yang memadukan pelestarian budaya, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan semangat mempererat persatuan masyarakat lintas suku, agama, serta budaya di Kabupaten Lamandau.

Ahmad Rosyid Al Hasani atau akrab sering di sebut Gus Rosyid, Rabu (8/7/2026) malam mengatakan, acara tersebut mengusung tema "Kembali ke Akar, Mekar dan Menyebar", Grebeg Suro tahun ini mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai budaya leluhur agar terus berkembang dan memberi manfaat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.Ujarnya

Kirab diawali dengan arak-arakan Sedekah Hasil Bumi yang dipimpin para sesepuh adat membawa Sapu Jagad. Dalam filosofi Grebeg Suro, Sapu Jagad melambangkan upaya membersihkan segala bentuk keburukan, penyakit, konflik, serta memohon perlindungan dan keselamatan bagi masyarakat Kabupaten Lamandau.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan pembawaan bokor berisi kembang setaman dan Kendi Pertolo. Bokor melambangkan wadah yang selalu membawa kebaikan, doa, kedamaian, dan persatuan, sedangkan Kendi Pertolo menjadi simbol air suci sebagai penolong yang diharapkan mampu menyingkirkan segala mara bahaya serta membawa kehidupan yang tenteram dan sejahtera.

Sebagai penanda dimulainya kirab, seorang pembawa cemethi memecahkan cambuk yang menjadi simbol dimulainya prosesi sekaligus harapan agar segala rintangan dan hal buruk menjauh dari masyarakat.

Gus Rosyid menambahkan Prosesi juga dimeriahkan dengan Kirap Pusaka Merah Putih yang diikuti berbagai organisasi, tokoh adat, hingga anak-anak sekolah sebagai simbol persatuan dan kecintaan terhadap bangsa serta budaya daerah.

Barisan inti dipimpin Kereta Kencana yang membawa Bupati, perwakilan kesultanan, Ketua MDT, dan tokoh adat. Kereta tersebut memiliki filosofi bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat sifat utama, yakni jujur, amanah, mampu memimpin, dan bijaksana. Kencana yang berarti emas juga menjadi lambang kemuliaan seorang pemimpin yang tetap kokoh menghadapi setiap ujian.

Dalam kirab tersebut turut ditampilkan Sedekah Hasil Bumi Lamandau sebagai ungkapan syukur atas hasil alam yang melimpah sekaligus doa agar kesejahteraan masyarakat terus meningkat.

Selain itu, Kirap Pusaka Tongkat Sakti Pakit Raja Hantu dan Kirap Pusaka Nusantara menjadi simbol penyucian diri, penghormatan terhadap peninggalan leluhur, serta komitmen menjaga nilai seni dan budaya Nusantara di tengah arus modernisasi.

Kirab budaya kemudian ditutup dengan barisan berbagai tokoh adat Dayak, adat Melayu, kelompok seni budaya Reog, hingga gunungan hasil bumi dari berbagai desa di Kabupaten Lamandau yang menjadi simbol kebersamaan, keberagaman, dan semangat gotong royong masyarakat.

"Melalui Grebeg Suro 2026, Kabupaten Lamandau kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga kelestarian budaya sebagai identitas daerah sekaligus memperkuat persatuan masyarakat dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika," pungkasnya. (BY-SB)