seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Kotim Mulai Diserbu Karhutla, 11 Hektare Lahan Terbakar

by Redaksi - Tanggal 09-07-2026,   jam 15:39:00
Petugas memadamkan kobaran api yang membakar lahan masyarakat. (FOTO: ISTIMEWA) Petugas memadamkan kobaran api yang membakar lahan masyarakat. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, SAMPIT - Memasuki musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sejak awal Juli 2026, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan telah mendekati 11 hektare dan tersebar di beberapa kecamatan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan luas lahan yang terbakar merupakan akumulasi dari sejumlah kejadian karhutla yang terjadi sejak awal pekan.

“Luas lahan yang terbakar sudah mendekati 11 hektare sejak hari Selasa,” ujar Multazam, Kamis (9/7/2026).

Berdasarkan hasil pemantauan BPBD menggunakan pesawat nirawak (drone), terdapat dua titik kebakaran di Kecamatan Mentaya Hulu dengan luas sekitar tiga hektare. Sementara itu, di Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, api menghanguskan kurang lebih empat hektare lahan.

Selain itu, kebakaran juga terjadi di kawasan Jalan Ir Soekarno, Kecamatan Baamang, tidak jauh dari Bandara H Asan Sampit. Di lokasi tersebut, luas area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar empat hektare.

Menurut Multazam, kondisi lahan gambut yang mulai mengering akibat musim kemarau menyebabkan api lebih mudah menyebar sehingga membutuhkan penanganan cepat agar tidak meluas.

“Petugas masih memantau perkembangan titik api supaya kebakaran bisa segera dikendalikan dan tidak meluas,” katanya.

Menghadapi meningkatnya potensi karhutla, BPBD Kotim terus mengintensifkan patroli dan pemantauan di sejumlah kawasan yang dinilai rawan kebakaran.

Upaya tersebut dilakukan untuk mendeteksi kemunculan titik api sedini mungkin sekaligus mempercepat proses penanganan di lapangan.

BPBD juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pasalnya, cuaca yang semakin kering membuat api sangat mudah membesar dan sulit dikendalikan.

“Kami mengimbau masyarakat tidak menggunakan api saat membuka lahan. Mencegah kebakaran jauh lebih baik daripada harus menghadapi dampak yang ditimbulkan setelah api meluas,” tegas Multazam. (f1/sb)