Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah turun langsung melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan. (FOTO:ISTIMEWA)
SB, SAMPIT - Camat Mentawa Baru Ketapang, Irpansyah, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun kebakaran permukiman di tengah musim kemarau dan status tanggap darurat bencana yang berlaku di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Imbauan tersebut disampaikan Irpansyah saat menghadiri perlombaan HUT ke-81 Republik Indonesia yang diselenggarakan TP PKK Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, cuaca kering yang disertai potensi gangguan listrik menjadi faktor yang meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Karena itu, masyarakat diminta lebih berhati-hati saat menggunakan api maupun peralatan listrik di rumah.
“Dalam situasi dan kondisi saat ini, di mana Kabupaten Kotawaringin Timur telah meningkatkan status tanggap darurat, kami dari pihak Kecamatan Mentawa Baru Ketapang mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar berhati-hati dalam penggunaan atau menyalakan api,” kata Irpansyah.
Ia menegaskan, kewaspadaan tidak hanya ditujukan untuk mencegah karhutla, tetapi juga kebakaran bangunan. Warga diminta memastikan seluruh sumber api dan peralatan listrik dalam kondisi aman sebelum meninggalkan rumah.
“Kita saat ini menghadapi musim kemarau dan juga kondisi listrik yang bisa padam. Jadi berhati-hati, jangan sampai saat meninggalkan rumah dalam keadaan kosong ada kabel listrik yang bermasalah. Pastikan peralatan listrik sudah dimatikan dan lilin juga harus dimatikan ketika meninggalkan rumah,” ujarnya.
Selain itu, Irpansyah mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Menurutnya, api yang ditinggalkan tanpa pengawasan sangat mudah merambat pada lahan yang kering dan sulit dikendalikan.
Hingga pertengahan Agustus, pihak kecamatan mencatat sejumlah kebakaran terjadi di wilayah Mentawa Baru Ketapang, terutama pada lahan perkebunan kelapa sawit. Sementara itu, belum ada laporan kebakaran yang berdampak pada lahan pertanian.
“Kalau pertanian sampai saat ini belum ada. Kemarin kami juga ada pertemuan dengan BPP Pertanian, sampai saat ini belum ada laporan yang mengakibatkan terbakarnya lahan pertanian,” jelasnya.
Beberapa titik kebakaran yang dilaporkan antara lain berada di wilayah Eka Bahurui dengan luasan sekitar dua hektare, Jalan Lembur Kuring sekitar satu hektare, serta Desa Bapeang sekitar satu hektare. Sejumlah lahan milik warga juga disebut turut terdampak.
Terkait penyebabnya, Irpansyah menilai mayoritas kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia.
“Kalau kami lihat, faktor alam mungkin hanya sekitar 0,1 persen. Sebagian besar akibat ulah manusia,” tegasnya.
Untuk mengantisipasi meluasnya karhutla, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang telah menginstruksikan seluruh kelurahan dan desa mengaktifkan pos lapangan sebagai pusat pemantauan dan kesiapsiagaan.
“Kami khususnya Kecamatan Mentawa Baru Ketapang selalu siaga di setiap kelurahan dan desa. Kami sudah menginstruksikan untuk membuka pos-pos lapangan yang mereka miliki,” ungkap Irpansyah.
Ia menambahkan, sekitar 30 personel disiagakan di tingkat kecamatan, kelurahan, dan desa. Mereka tetap bertugas sejak masa siaga hingga status meningkat menjadi tanggap darurat.
“Kurang lebih ada 30 orang. Dari status siaga sampai status tanggap ini, mereka terus berada di lapangan. Tanpa dibayar, mereka terus bekerja untuk menangani terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
Saat ini, salah satu lokasi yang masih menjadi fokus penanganan berada di kawasan Mentawa Baru Ketapang. Petugas terus melakukan pendinginan untuk mencegah api kembali menyala dan merembet ke wilayah Pelita Barat.
Menurut Irpansyah, kendala utama yang dihadapi di lapangan adalah terbatasnya ketersediaan air dan panjang selang yang dibutuhkan karena jarak sumber air cukup jauh dari titik kebakaran.
“Yang menjadi kendala kami air dan selang. Posisi api dengan sumber air cukup jauh, sehingga diperlukan selang yang cukup banyak,” ujarnya.
Ia pun mengajak seluruh masyarakat berperan aktif dalam mencegah kebakaran dengan tidak membakar lahan serta menjaga lingkungan selama musim kemarau.
“Yang paling penting masyarakat jangan membakar lahan sembarangan. Mari kita sama-sama menjaga lingkungan agar kebakaran tidak meluas,” pungkasnya. (f1/sb)