seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Ruang Iklan Tersedia

Karhutla Kotim Mengganas, BPBD Mengaku Kekurangan Armada Pemadam

by Redaksi - Tanggal 29-08-2026,   jam 16:28:33
Kepala BPBD Kotim, Multazam ketika diwawancara oleh sejumlah awak media. (FOTO:DOK SEPUTAR BORNEO) Kepala BPBD Kotim, Multazam ketika diwawancara oleh sejumlah awak media. (FOTO:DOK SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meningkat sejak 17 Agustus 2026. Kondisi ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim harus bekerja ekstra di tengah keterbatasan unit pemadam.

Kepala BPBD Kotim, Multazam, mengatakan peningkatan kejadian terjadi hampir setiap hari. Namun, tidak semua titik bisa langsung ditangani karena keterbatasan kendaraan pemadam atau fighter.

“Sejak 17 Agustus memang ada peningkatan kejadian harian. Ada yang bisa kami tangani, ada juga yang tidak bisa,” kata Multazam, Sabtu (29/8/2026).

Menurutnya, persoalan bukan hanya jumlah kendaraan, tetapi juga kondisi unit yang berbeda-beda. Sebagian kendaraan bahkan harus menjalani perbaikan agar kembali bisa digunakan.

“Unit fighter kami memang sangat terbatas, baik dari jumlah maupun efektivitas penanganannya. Usia dan teknologinya juga berbeda-beda,” ujarnya.

Multazam menyebut setiap hari rata-rata ada empat hingga lima unit yang harus mendapat perbaikan cepat. Kendaraan yang mengalami kendala diupayakan bisa kembali beroperasi dalam waktu dua hingga tiga jam.

Ia juga meminta maaf kepada masyarakat apabila penanganan karhutla belum maksimal di seluruh lokasi. Kondisi angin yang cukup kencang membuat api, terutama di lahan gambut, cepat menyebar.

“Kami minta maaf kepada masyarakat. Kecepatan angin dari pagi sampai malam membuat kebakaran di wilayah gambut sangat cepat sekali,” ungkapnya.

Untuk memperkuat penanganan awal, BPBD kini mendorong masyarakat ikut menyiapkan sumber air di lingkungan masing-masing.

Salah satunya dengan membuat embung portabel dari terpal di kawasan perumahan. Fasilitas sederhana tersebut dinilai bisa menjadi sumber air awal ketika kebakaran terjadi di sekitar permukiman.

“Kami berharap kompleks-kompleks perumahan segera menyediakan embung portabel dari terpal. Ini murah dan bisa menjadi sumber air awal apabila terjadi kebakaran di sekitar perumahan,” imbaunya. (f1/sb)