seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Ruang Iklan Tersedia

Kabut Asap Ganggu Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya

by Redaksi - Tanggal 01-09-2026,   jam 15:13:00
Kondisi di sekitar Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya masih diselimuti kabur asap, pada Selasa (1/9/2026). FOTO: SEPUTAR BORNEO Kondisi di sekitar Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya masih diselimuti kabur asap, pada Selasa (1/9/2026). FOTO: SEPUTAR BORNEO

SB, PALANGKA RAYA - Kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang melanda Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) dari 29-31 Agustus 2026 telah menganggu aktifitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya. 

GM Angkasa Pura Kantor Cabang Bandara Tjilik Riwut, I Made Darmawan mengatakan aktifitas penerbangan selama kondisi kabur asap sangat menganggu, dimana berdasarkan pemantauan visibility harian, kondisi sejak akhir Juli hingga saat ini (data terbaru 1 September 2026) masih fluktuatif.

"Titik terparah tercatat pada 29–31 Agustus 2026, saat visibility sempat turun hingga 250–800 meter pada pagi hari, memaksa sejumlah penerbangan dibatalkan atau dialihkan. Memasuki awal September, kondisi berangsur membaik meski visibility pagi hari masih fluktuatif (tercatat 1.300 meter pada pukul 08.00 WIB)," jelasnya.

Lanjutnya berdasarkan rekapitulasi 27 Juli–31 Agustus 2026, tercatat sekitar 20 kejadian gangguan operasional penerbangan akibat visibility di bawah minima, dengan rincian:

- Penerbangan dibatalkan: 8 kejadian

- Penerbangan dialihkan (divert) ke Bandara Sepinggan, Balikpapan: 4 kejadian

- RTB (kembali ke bandara asal): 2 kejadian

- Go around / waiting at origin : 2 kejadian

- Keterlambatan (delay): 4 kejadian

Puncak gangguan terjadi pada 30–31 Agustus 2026, ketika beberapa penerbangan IU, QG, JT, GA, ID, SI mengalami pembatalan dan pengalihan beruntun dalam satu hari akibat visibility jatuh di bawah 1.000 meter.

I Made Darmawan menambahkan dengan kondisi yang ada saat ini, Bandara Tjilik Riwut bersedia melakukan penyesuaian jam operasional bandara jika dibutuhkan oleh maskapai. Dan untuk para penumpang yang mengalami keterlambatan waktu terbang dikarenakan bencana karhutla, pihaknya menyediakan service recovery di area ruang tunggu secara gratis.

"Selain itu, kami selalu memberikan update informasi terbaru mengenai operasional penerbangan dengan tentu berdiskusi terlebih dahulu bersama stakeholder lainnya," ungkapnya.

Meskipun kabur asap, secara umum penerbangan tetap berjalan dengan penyesuaian (delay/reschedule) saat visibility menurun. Pembatalan dan pengalihan hanya dilakukan pada kondisi ekstrem, yaitu saat visibility turun signifikan di bawah ambang batas minima keselamatan pendaratan/lepas landas — seperti yang terjadi pada 29–31 Agustus 2026.

"Jumlah frekuensi masih sama, yaitu 10 frekuensi dengan berbagai rute. Selama bulan Agustus, rata-rata penumpang 2.397 Penumpang per hari. Dimana penebangan tersedia Jakarta (CGK), Surabaya (SUB), Semarang (SRG), Yogyakarta (YIA), Balikpapan (BPN), dan beberapa rute perintis seperti Kuala Pembuang, Muara Teweh dan Puruk Cahu," pungkasnya. (sb)