Lewati ke konten utama
Provinsi

Kabut Asap Lumpuhkan Penerbangan Sampit, Jarak Pandang Sore Hari Kurang dari 100 Meter

Redaksi 13-10-2026, 18:15 WIB 2 menit baca
Kondisi cuaca di Bandara H Asan Sampit
Kondisi cuaca di Bandara H Asan Sampit

SB, SAMPIT – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat aktivitas penerbangan di Bandara H Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), terganggu sepanjang Oktober 2026. Jarak pandang yang terus merosot hingga kurang dari 100 meter pada sore hari menyebabkan penerbangan dihentikan sementara demi keselamatan penumpang.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim, Raihansyah, mengungkapkan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jarak pandang pada pagi hari hanya berkisar 500 hingga 800 meter. Kondisi tersebut memburuk ketika memasuki siang hingga sore hari, bahkan sempat turun di bawah 100 meter.

“Kalau melihat data dari BMKG, jarak pandang pada pagi hari bisa mencapai 500 sampai 800 meter. Namun, memasuki siang hari terus menurun menjadi 400 meter, 300 meter, bahkan pada sore hari bisa di bawah 100 meter,” ungkap Raihansyah.

Kondisi tersebut jauh dari persyaratan jarak pandang yang dibutuhkan untuk mendukung keselamatan penerbangan di bandara tersebut. Dengan jarak pandang yang sangat terbatas, aktivitas penerbangan terpaksa dihentikan sementara hingga kondisi memungkinkan untuk kembali beroperasi.

Ironisnya, gangguan penerbangan masih terjadi meskipun aktivitas kebakaran di sejumlah wilayah Kotim mulai berkurang. Menurut Raihansyah, kabut asap masih menyelimuti Sampit dan diduga berasal dari wilayah lain yang terbawa angin. Akibatnya, kualitas jarak pandang belum pulih dan penerbangan belum dapat berjalan normal.

Raihansyah menegaskan, penghentian sementara hanya berlaku terhadap aktivitas penerbangan. Operasional Bandara H Asan Sampit, termasuk aktivitas pegawai dan pelayanan lainnya, tetap berlangsung seperti biasa. Namun, kondisi tersebut tetap menyulitkan masyarakat yang mengandalkan transportasi udara untuk bepergian ke luar daerah.

Dampak paling terasa, lanjutnya, dialami kalangan pebisnis dan investor yang membutuhkan mobilitas cepat. Mereka yang biasanya dapat bepergian menggunakan pesawat kini harus mencari alternatif perjalanan agar kegiatan usaha tetap berjalan.

“Yang paling terdampak adalah para pebisnis, terutama investor yang ada di Sampit. Biasanya mereka membutuhkan perjalanan cepat menggunakan pesawat, tetapi sekarang harus menempuh perjalanan darat ke Banjarmasin,” katanya.

Sebagai alternatif, masyarakat yang hendak melakukan perjalanan udara dapat menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, melalui jalur darat dengan waktu tempuh sekitar delapan hingga sembilan jam dari Sampit. Meski membutuhkan waktu lebih lama, jalur tersebut menjadi pilihan ketika penerbangan dari Sampit belum dapat dilayani.

Sementara itu, distribusi barang kebutuhan pokok dan logistik dipastikan masih dapat berjalan melalui jalur laut. Raihansyah berharap kondisi kabut asap segera membaik sehingga penerbangan di Bandara H Asan Sampit dapat kembali beroperasi normal dan mobilitas masyarakat maupun pelaku usaha tidak terus terganggu. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard