Lewati ke konten utama
Provinsi

Bulog Kotim Targetkan Serap 16 Ribu Ton Gabah di 2026

Redaksi 25-02-2026, 09:40 WIB 3 menit baca
Kepala Bulog Kantor Cabang Kotim, Muhammad Azwar Fuad
Kepala Bulog Kantor Cabang Kotim, Muhammad Azwar Fuad

SB, SAMPIT - Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotawaringin Timur (Kotim), Muhammad Azwar Fuad, menyampaikan bahwa hingga saat ini pihaknya telah menyerap ratusan ton gabah dari sejumlah titik panen di wilayah Kotim.

"Di Lampuyang juga sudah mulai ada yang panen, spot-spot kurang lebih 500 ton yang sudah kita serap. Untuk stok beras yang sudah ada di gudang Bulog kurang lebih 6.200 ton," kata Muhammad Azwar Fuad, Rabu (25/2/2026).

la menjelaskan, gabah yang saat ini diserap dari petani masih disimpan di gudang mitra untuk kemudian digiling sebelum dikirim ke gudang Bulog. Tahun 2026 ini, Bulog Kotim mengalami kenaikan target penyerapan dibanding tahun sebelumnya. Jika pada 2025 target penyerapan gabah sebesar 14.000 ton, maka tahun ini meningkat menjadi 16.000 ton.

"Sumbernya dari tiga sentral produksi di wilayah kerja kami, yakni Pagatan di Kabupaten Katingan, Lampuyang di Kabupaten Kotim, dan Kuala Pembuang di Kabupaten Seruyan," jelasnya.

Sementara itu, harga pembelian gabah masih tetap sebesar Rp6.500 per kilogram sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) terbaru. Menurutnya, peningkatan target ini sejalan dengan bertambahnya luas tanam akibat. Program cetak sawah baru yang dicanangkan pemerintah melalui Kementerian Pertanian.

"Secara nasional, Pak Menteri Pertanian juga menaikkan target penyerapan Bulog. Tahun lalu 3 juta ton beras, tahun ini menjadi 4 juta ton. Jadi memang ada kenaikan signifikan," ungkapnya.

Bulog menargetkan minimal 50 persen hasil panen petani dapat terserap. Pasalnya, tidak seluruh hasil panen dijual karena sebagian disimpan untuk kebutuhan pribadi.

la mengakui masih ada petani yang menjual hasil panen ke pengepul, meskipun Bulog tidak memiliki data resmi terkait jumlahnya.

"Pasti masih ada yang menjual ke pengepul, mungkin karena ada keterikatan seperti pinjaman atau hal lain. Itu hal yang wajar," ujarnya.

Azwar juga menyoroti dampak positif kenalkan HPP terhadap minat tanam petani, khususnya di Lampuyang. la menyebut lahan-lahan tidur kini hampir seluruhnya telah digarap.

"Sebelum HPP Rp6.500, masih banyak lahan tidur yang belum digarap. Sekarang hampir semua ditanami sawah. Bahkan menurut Pak Kades di sana, setiap habis panen ada warga yang beli motor baru atau kredit pick up. Artinya ada peningkatan ekonomi masyarakat," bebernya.

Bulog Kotim juga tengah mengusulkan pembangunan gudang dan penggilingan modern di wilayah tersebut. Namun, pembangunan masih menunggu proses hibah lahan.

"Syaratnya Bulog harus sudah memiliki lahan. Tanahnya sudah ada dari Pak Kades, tapi proses legalitas hibahnya masih berjalan. Target kita 2027, yang penting tanahnya dulu resmi jadi milik Bulog," jelasnya.

la menambahkan, pihaknya menargetkan pembangunan gudang berkapasitas besar dengan fasilitas penggilingan 5 ton per jam dan dryer 30 ton per hari.

Menurutnya, keberadaan penggilingan modern ini nantinya diharapkan mampu menekan harga beras premium di Kotim yang selama ini 99 persen didatangkan dari luar daerah seperti Jawa dan Sulawesi.

"Kalau kita bisa produksi sendiri, biaya distri bisa dipangkas. Harapannya harga beras premium di sini bisa turun," katanya.

Untuk beras medium, Bulog telah melakukan intervensi melalui program SPHP yang dijual di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET).

"Beras SPHP 5 kilogram bisa dijual Rp60.000 sampal Rp62.000, di bawah HET Rp65.000. Tapi untuk beras premium memang belum bisa kita intervensi karena stoknya masih terbatas dan didatangkan dari luar," ungkapnya.

la juga menyebut Bulog mendapat penugasan pendanaan pemerintah (PMN) untuk membangun 100 titik gudang dan penggilingan modern secara nasional.

"Anggarannya dari pemerintah. Kalau bangunan itu sudah berdiri, kita bisa produksi beras medium maupun premium sendiri. Tapi kemungkinan belum tahun ini," katanya.

Terkait daging beku, Azwar menyampaikan bahwa dalam dua tahun terakhir Bulog tidak lagi mendapat penugasan untuk menjual komoditas tersebut.

"Sudah hampir dua tahun ini kami tidak menjual daging beku. Penugasannya dialihkan ke BUMN pangan lain, yaitu PT Berdikari," lanjutnya.

Sementara itu, penjualan beras SPHP di Kotim masih berjalan normal dengan volume 5 hingga 15 ton per hari.

"Kalau pengaruh langsung dengan beras premium sepertinya tidak ada, karena segmen pasarnya berbeda. Premium biasanya untuk konsumen yang tidak sensitif terhadap harga, sedangkan mediurn lebih ke masyarakat menengah ke bawah yang mempertimbangkan harga," tandasnya. (f1/SB)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard