Lawan Stunting, DP2APKB Kotim Gaet Masyarakat Jadi Orang Tua Asuh
SB, SAMPIT – Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus diperkuat. Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Keluarga Berencana (DP2APKB) setempat menggelar pertemuan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Jumat (17/4/2026).
Kegiatan ini menjadi salah satu langkah strategis dengan mengedepankan semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor dalam menangani persoalan stunting yang masih menjadi tantangan serius.
Kepala DP2APKB Kotim, Achamad Yusi, menegaskan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, persoalan ini memiliki akar yang kompleks dan multidimensi, sehingga membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Penanganan stunting harus dilakukan secara kolaboratif dan sinergis. Tidak bisa hanya satu sektor saja yang bergerak,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Ia menjelaskan, program GENTING mendorong keterlibatan masyarakat luas untuk menjadi Orang Tua Asuh (OTA) bagi Keluarga Berisiko Stunting (KRS). Melalui pendekatan ini, diharapkan muncul kepedulian kolektif dalam mendampingi keluarga yang membutuhkan.
“Tujuan utamanya bukan sekadar menurunkan angka stunting, tetapi menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” tegasnya.
Dalam implementasinya, bantuan yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek gizi, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar lainnya. Mulai dari penyediaan rumah layak huni, akses air bersih, jamban sehat, edukasi keluarga, hingga pemberdayaan ekonomi.
Untuk memastikan program berjalan optimal, Yusi menginstruksikan Petugas Keluarga Berencana/Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PKB/PLKB) agar berperan aktif di lapangan. Mereka diminta mengawal pelaksanaan program sekaligus menindaklanjuti hasil evaluasi tahun sebelumnya.
“PKB/PLKB harus aktif membangun koordinasi, termasuk menjalin komunikasi dengan calon Orang Tua Asuh,” katanya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya keakuratan data melalui proses verifikasi dan validasi KRS bersama pemerintah desa dan kelurahan. Registrasi mitra pun didorong melalui Sistem Informasi Peduli GENTING agar pelaksanaan program lebih terarah dan terukur.
“Data yang valid menjadi kunci agar intervensi tepat sasaran. Pelaporan juga harus dilakukan secara sistematis melalui platform yang tersedia,” jelasnya.
Di akhir kegiatan, Yusi mengajak seluruh pihak untuk memperkuat komitmen bersama dalam menekan prevalensi stunting di Kotim.
“Kita tidak hanya mengejar penurunan angka, tetapi memastikan lahirnya generasi yang sehat, kuat, dan bebas dari stunting,” pungkasnya.
Melalui program GENTING yang inklusif dan kolaboratif, DP2APKB Kotim berharap seluruh elemen masyarakat dapat bergerak bersama menghadapi persoalan stunting demi masa depan generasi yang lebih baik. (f1/sb)