Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

22 Faskes Diresmikan, Dinkes Kotim Dorong Integritas Layangan Primer Berbasis Klaster

Redaksi 23-04-2026, 06:47 WIB 2 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan, Umar Kaderi
Kepala Dinas Kesehatan, Umar Kaderi

SB, SAMPIT - Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meresmikan sebanyak 22 fasilitas kesehatan (faskes), yang terdiri dari 4 puskesmas dan 18 puskesmas pembantu (pustu). Peresmian dilakukan secara simbolis di Puskesmas Mentaya Seberang, Kamis (23/4/2026).

Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, mengatakan pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan kesehatan yang mengacu pada standar Kementerian Kesehatan.

“Alhamdulillah hari ini dilakukan peresmian secara simbolis di Puskesmas Mentaya Seberang. Ada 22 faskes yang kita resmikan, terdiri dari 4 puskesmas dan 18 pustu. Pembangunan ini kita harapkan sudah sesuai dengan tipe dan standar dari Kementerian Kesehatan,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).

Ia menjelaskan, perencanaan pembangunan juga melibatkan Kementerian Kesehatan melalui koordinasi secara daring, sehingga seluruh fasilitas yang dibangun memenuhi standar nasional. Selain pembangunan fisik, Dinkes Kotim juga mulai menerapkan integrasi layanan primer dengan sistem berbasis klaster.

“Kalau dulu kita mengenal poli-poli, sekarang berubah menjadi klaster 1 sampai 5. Setiap klaster memiliki siklus pelayanan, sehingga data pasien akan terekam lengkap di sistem Kementerian Kesehatan,” jelasnya.

Menurut Umar, melalui sistem tersebut, riwayat kesehatan pasien dapat terpantau secara menyeluruh, mulai dari identitas, keluhan, hingga tindakan medis yang pernah diterima.

Jadi ketika pasien datang dengan datanya sudah terekam. Maka pihaknya bisa menganalisa kemungkinan penyakit seperti hipertensi, diabetes, atau lainnya dari data yang ada.

Pihaknya juga menjalankan program pilot project di dua desa terkait penguatan layanan primer berbasis data. Program ini didukung oleh Kementerian Kesehatan dan pendanaan dari Bank Dunia.

“Tenaga kesehatan ditugaskan untuk mendata seluruh penduduk di desa tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam aplikasi. Dari situ kita bisa melihat penyakit apa yang dominan dan langkah apa yang harus dilakukan,” ungkapnya.

Program ini difokuskan pada upaya promotif dan preventif, seperti skrining kesehatan untuk mencegah penyakit sejak dini.

“Kalau ini berjalan baik, kita berharap seluruh desa di Kotim bisa terdata, sehingga kita dapat mendeteksi lebih awal potensi penyakit seperti DBD, hepatitis, atau TBC,” lanjutnya.

Umar juga memastikan bahwa layanan kesehatan di puskesmas dan pustu tetap gratis bagi masyarakat, termasuk layanan unit gawat darurat (UGD) yang tersedia selama 24 jam.

Sementara itu, untuk Puskesmas Antang Kalang 2 saat ini masih dalam proses registrasi di tingkat provinsi dan Kementerian Kesehatan. Meski demikian, pelayanan kepada masyarakat sudah mulai berjalan.

“Pelayanan sudah kita laksanakan dengan memanfaatkan tenaga yang ada di sekitar wilayah tersebut. Nanti setelah registrasi keluar, akan kita launching secara resmi,” katanya.

Ia menyebutkan, saat ini total puskesmas yang sudah operasional di Kotim mencapai 22 unit. Dinkes Kotim juga menargetkan peningkatan capaian program skrining kesehatan (CKG) yang saat ini masih sekitar 50 persen dari target.

“Kendala kita, masyarakat masih kurang merespon layanan skrining. Tapi kami tidak akan putus asa, kita akan jemput bola hingga ke tingkat RT, seperti saat vaksinasi Covid-19 dulu,” pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard