Harga Sapi Kurban di Sampit Naik Menjelang Idul Adha, Minat Pembeli Masih Stabil
SB, SAMPIT - Harga sapi kurban di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengalami kenaikan menjelang Iduladha 2026. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya biaya distribusi dan operasional, meski minat masyarakat untuk berkurban tetap stabil.
Penjual sapi, Kul Amri Daeng Beta, mengatakan kenaikan harga berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per ekor dibandingkan tahun sebelumnya.
“Untuk harga memang ada kenaikan karena biaya surat dan ongkos mobil, apalagi solar juga naik. Jadi rata-rata naik sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per ekor,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, harga sapi saat ini bervariasi tergantung jenis dan bobot. Sapi jenis Bali dijual mulai Rp18 juta hingga Rp35 juta, sedangkan sapi limosin dengan bobot besar bisa mencapai Rp75 juta per ekor.
“Harga paling rendah itu sekitar Rp18 juta dengan berat sekitar 270 kilogram. Kalau yang paling besar bisa sampai 1 ton dengan daging sekitar 350 kilogram,” jelasnya.
Di tengah kenaikan harga, pengawasan kesehatan sapi juga diperketat. Setiap sapi yang didatangkan wajib melalui proses karantina selama 20 hingga 24 hari untuk memastikan bebas dari penyakit menular.
“Sekarang karantina diperketat untuk menghindari penyakit. Semua sapi juga sudah ada barcode di telinganya supaya jelas asal-usulnya dan tidak ada sapi selundupan,” katanya.
Menurutnya, terdapat lima penyakit utama yang diwaspadai dalam distribusi sapi kurban, yakni Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Jembrana, Brucellosis, Anthrax, serta Septicaemia Epizootica (SE).
“Penyakit-penyakit ini berbahaya karena bisa menular antar hewan, bahkan sebagian bisa menular ke manusia,” ungkapnya.
Kul Amri menegaskan, seluruh sapi yang dijual telah melalui pemeriksaan berlapis, baik sebelum pengiriman maupun pengecekan ulang oleh dinas terkait menjelang Iduladha. Jika ditemukan sapi sakit, akan segera dipisahkan untuk mencegah penularan.
“Alhamdulillah selama kurang lebih 13 tahun saya berjualan, belum pernah ada sapi saya yang kena penyakit karena semua melalui proses karantina ketat,” tegasnya.
Meski harga naik, ia memastikan antusiasme masyarakat tidak menurun dan pemesanan terus berdatangan.
“Alhamdulillah minat masyarakat tetap sama, tidak goyang untuk berkurban. Semua pesanan juga sudah datang dan siap dijual,” pungkasnya. (f1/sb)