Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Bahasa Inggris Kembali Masuk Kurikulum SD, Disdik Kotim Padukan Penguatan Karakter

Redaksi 11-06-2026, 07:27 WIB 2 menit baca
Kegiatan Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur Padukan Penguatan Karakter Melalui Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. FOTO: ISTIMEWA/SB
Kegiatan Dinas Pendidikan Kotawaringin Timur Padukan Penguatan Karakter Melalui Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. FOTO: ISTIMEWA/SB

SB, SAMPIT - Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui penguatan kompetensi akademik dan pembentukan karakter peserta didik. Mulai tahun ajaran baru, mata pelajaran Bahasa Inggris kembali diterapkan di sekolah dasar bersamaan dengan penguatan Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.

Kepala Seksi (Kasi) Kurikulum dan Pembinaan SD Disdik Kotim, Muhammad Noor Akbar, mengatakan kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang mampu bersaing di era global tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter yang kuat.

"Mulai tahun ajaran baru ini Bahasa Inggris kembali diajarkan dan sudah disiapkan guru-gurunya di sekolah dasar. Selain itu juga ada mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial atau Artificial Intelligence yang mulai diperkenalkan kepada peserta didik," kata Akbar, Rabu (10/6/ 2026).

Menurutnya, penguasaan Bahasa Inggris menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan teknologi dan arus informasi yang semakin pesat. Karena itu, peserta didik perlu dikenalkan sejak dini agar memiliki kemampuan berkomunikasi dan beradaptasi dengan perkembangan dunia.

Namun demikian, Akbar menegaskan bahwa peningkatan kemampuan akademik harus berjalan seiring dengan pembentukan karakter yang baik. Untuk itu, pemerintah juga mendorong penerapan Program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di seluruh sekolah dasar.

"Kalau anak-anak hanya pintar secara akademik tetapi karakternya tidak dibentuk, tentu belum cukup. Karena itu penguatan karakter tetap menjadi prioritas yang harus dilakukan bersama antara sekolah dan orang tua," ujarnya.

Ia menjelaskan, tujuh kebiasaan yang dimaksud meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, aktif bermasyarakat, serta tidur cepat dan beristirahat yang cukup.

Menurut Akbar, kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan masa depan anak.

"Kalau orang tua mampu bersinergi dengan sekolah menerapkan tujuh kebiasaan ini di rumah, maka akan terbentuk karakter yang kuat. Ketika itu sudah menjadi kebiasaan dan akhlak anak, insya Allah mereka akan tumbuh menjadi generasi yang hebat dan sukses," katanya.

Ia menambahkan, pendidikan saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada nilai akademik semata. Sekolah juga didorong untuk mengembangkan potensi peserta didik melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

"Rapor siswa nantinya tidak hanya memuat hasil pembelajaran di kelas atau intrakurikuler, tetapi juga kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler. Jadi perkembangan anak dinilai secara menyeluruh," jelasnya.

Selain penguatan karakter, Disdik Kotim juga terus mendorong transformasi digital di lingkungan sekolah. Kehadiran mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial diharapkan dapat membantu peserta didik mengenal teknologi sejak dini dan memanfaatkannya secara positif.

"Zamannya sudah berubah. Anak-anak harus dikenalkan dengan teknologi, tetapi tetap harus memiliki karakter yang kuat. Jadi kemampuan akademik, keterampilan digital, dan akhlak yang baik harus berjalan beriringan," tegas Akbar.

Ia berharap penerapan kembali Bahasa Inggris di sekolah dasar, ditambah pembelajaran teknologi dan penguatan tujuh kebiasaan baik, dapat melahirkan generasi Kotim yang cerdas, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan masa depan.

"Harapan kita anak-anak tidak hanya unggul dalam pelajaran, tetapi juga memiliki disiplin, tanggung jawab, akhlak yang baik, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional," pungkasnya.(f1/sb) 

 

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard