Lewati ke konten utama
Provinsi

Karhutla Ancam Keberlangsungan Satwa Dilindungi, Dua Trenggiling Ditemukan Terpanggang

Redaksi 21-09-2026, 09:43 WIB 2 menit baca
Komunitas Reptil Sampit ketika menemukan dua trenggiling mati terpanggang dilahan yang terbakar di Desa Teratang Hilir, Kabupaten Kotim. (FOTO:ISTIMEWA)
Komunitas Reptil Sampit ketika menemukan dua trenggiling mati terpanggang dilahan yang terbakar di Desa Teratang Hilir, Kabupaten Kotim. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tak hanya mengancam permukiman dan lahan milik warga. Kobaran api juga menyasar habitat satwa liar dan menelan korban.

Dua ekor trenggiling ditemukan dalam kondisi hangus terbakar di kawasan karhutla wilayah Desa Teratang Hilir. Keduanya ditemukan saat Komunitas Reptil Sampit melakukan penyisiran untuk mencari dan menyelamatkan satwa yang terdampak kebakaran.

Ketua sekaligus penggerak Komunitas Reptil Sampit, Harie Siswanto, mengatakan penyisiran dilakukan setelah kondisi lokasi dipastikan aman untuk dimasuki. Tim tidak bisa langsung masuk ke kawasan yang masih terbakar karena selain api, kondisi lahan yang belum sepenuhnya dingin juga membahayakan relawan.

“Biasanya kami melakukan patroli, sweeper atau tracking untuk misi penyelamatan satwa. Ketika terjadi kebakaran, kami menunggu sampai benar-benar padam dan proses pendinginan selesai, baru bisa melakukan sweeping,” ujar Harie, Minggu (20/9/2026).

Menurutnya, keselamatan relawan tetap menjadi prioritas sebelum upaya penyelamatan satwa dilakukan. Setelah api benar-benar padam dan kondisi memungkinkan, tim baru bergerak menyisir kawasan terdampak.

“Fokus pertama teman-teman volunteer atau aktivis lingkungan yang kita selamatkan, baru kemudian satwanya. Kalau saat kebakaran masih berlangsung, sangat sulit untuk masuk karena kondisinya kacau,” katanya.

Saat melakukan penyisiran di wilayah Teratang Hilir, tim menemukan dua ekor trenggiling yang sudah tidak dapat diselamatkan. Satu bangkai ditemukan sekitar sepekan sebelumnya, sementara satu lainnya ditemukan dua hari sebelum informasi tersebut disampaikan.

“Kondisinya semua terbakar. Kalau kita lihat, hampir 100 persen terbakar. Biasanya bagian badan trenggiling yang terbakar, sedangkan bagian ekornya masih tersisa karena posisi ekor disembunyikan ke bagian perut,” jelas Harie.

Berdasarkan pengamatan tim, kedua trenggiling tersebut diperkirakan merupakan satwa dewasa, dengan salah satunya masih tergolong juvenil.

Harie menyebut kobaran api yang mencapai kawasan Teratang Hilir diduga merupakan bagian dari pergerakan kebakaran dari wilayah Desa Batuah dan Kemapit. Kondisi angin yang cukup kencang kemudian membuat api bergerak hingga ke kawasan Teratang Hilir.

Dampaknya tidak hanya dirasakan trenggiling. Sejumlah satwa lain juga ditemukan terdampak kebakaran, mulai dari kucing hutan hingga berbagai jenis reptil.

“Kalau reptil banyak yang terdampak karena mereka tidak punya kemampuan untuk lari cepat seperti mamalia. Kami juga pernah menemukan kucing hutan, tetapi kondisinya sudah terbakar,” ungkapnya.

Selain trenggiling dan kucing hutan, tim juga menemukan berbagai jenis reptil di kawasan terdampak, di antaranya ular sawah, king cobra, sanca, dipong, dan biawak.

Untuk satwa yang ditemukan sudah mati, komunitas biasanya melakukan penguburan di lokasi atau membawanya ke base camp. Sementara terhadap satwa yang masih hidup dan membutuhkan penanganan, komunitas berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).

Upaya penyisiran tersebut dilakukan untuk memastikan satwa yang masih bertahan di kawasan terdampak karhutla dapat segera ditemukan dan mendapatkan penanganan. Di sisi lain, temuan dua trenggiling yang hangus menjadi gambaran bahwa kebakaran tidak hanya membakar vegetasi dan lahan, tetapi juga mengancam kehidupan satwa liar yang berada di dalamnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard